بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ
آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ
1. Pendirian Ka'bah
Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan pada zaman apa Ka'bah
dibangun. Di antaranya ada dua pendapat besar yang berkembang.
a. Pendapat Pertama
Menurut pendapat ini Ka'bah baru dibangun oleh nabi Ibrahim alaihissalam. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Katsir dengan landasan riwayat dari Ibnu Abbas ra, "Seandainya manusia tidak berhaji ke rumah ini (ka'bah), maka Allah tumbukkan langit dengan bumi."
Selain itu juga dengan dalil ayat-ayat berikut ini:
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di
tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah kamu memperserikatkan
sesuatu pun dengan Aku." (QS. Al-Hajj: 26)
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat
beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang
diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat
tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa
memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. (QS. Ali Imran: 96-97)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar
Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami terimalah
daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Baqarah: 127)
b. Pendapat Kedua
Pendapat kedua mengatakan bahwa Ka'bah sudah berdiri jauh sebelum
zaman nabi Ibrahim, yaitu sejak zaman nabi Adam alaihissalam. Bahkan
ketika Adam turun ke muka bumi, Ka'bah sudah berdiri tegak dibangun oleh
para malaikat. Ka'bah memang didirikan untuk Adam melakukan ibadah
kepada Allah SWT di bumi.
Keterangan ini mereka dapat dari hadits dalam kitab Ad-Dalail yang
diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari shahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu
secara marfu'. Dan di dalamnya terkandung kisah tentang pembangunan
Ka'bah di sejak masa nabi Adam. Namun secara sanad, periwayatan haditsi
ini secara sendirian lemah (dhaif).
Maka hadits ini dikuat dengan riwayat dari jalur lainnya, yaitu apa
yang diriwayatkan secara mauquf dari Ibnu Abbas ra. sebagaimana yang ada
pada Al-Azraqi, Abu Syaikh dan Ibnu Asakir. Pendapat ini manqul dari
Muhammad bin Kaab Al-Qurazhi dan 'Atho dan lainnya. Az-Zarqani
merajihkan hadits-haditsnya sebagaimana beliau tulis dalam kitab
syarahnya pada kitab Al-Muwaththa'. Di sana beliau menuliskan, "Semua
riwayat ini saling menguatkan satu dengan yang lainnya."
2. Hajar Aswad
Hajar Aswad berarti batu hitam. Batu itu kini ada di salah satu sudut
Ka`bah yang mulia yaitu di sebelah tenggaradan menjadi tempat start dan
finish untuk melakukan ibadah tawaf di sekeliling Ka`bah.
Diletakkan dalam bingkai dan pada posisi 1,5 meter dari atas
permukaan tanah. Batu yang berbentuk bulat telur dengan warna hitam
kemerah-merahan. Di dalamnya ada titik-titik merah campur kuning
sebanyak 30 buah. Dibingkai dengan perak setebal 10 cm buatan Abdullah
bin Zubair, seorang shahabat Rasulullah SAW.
Batu ini asalnya dari surga sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadits.
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Hajar Aswad
turun dari surga berwarna lebih putih dari susu lalu berubah warnanya
jadi hitam akibat dosa-dosa bani Adam." (HR. Timirzi, An-Nasa`I, Ahmad, Ibnu Khuzaemah dan Al-Baihaqi).
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersada, "Demi Allah,
Allah akan membangkit hajar Aswad ini pada hari qiyamat dengan memiliki
dua mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara. Dia akan
memberikan kesaksian kepada siapa yang pernah mengusapnya dengan hak.†(HR. Tirmizy, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, At-Tabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Asbahani).
At-Tirmizi mengatakan bahwa hadits ini hadits hasan. Sedangkan Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam kitab Shahihul Jami` no. 2180,
5222 dan 6975.
Dari Abdullah bin Amru berkata, "Malaikat Jibril telah membawa
Hajar Aswad dari surga lalu meletakkannya di tempat yang kamu lihat
sekarang ini. Kamu tetap akan berada dalam kebaikan selama Hajar Aswad
itu ada. Nikmatilah batu itu selama kamu masih mampu menikmatinya.
Karena akan tiba saat di mana Jibril datang kembali untuk membawa batu
tersebut ke tempat semula." (HR. Al-Azraqy).
Bagaimanapun juga Hajarul Aswad adalah batu biasa, meskipun banyak
kaum muslimin yang menciumnya atau menyentuhnya, hal tersebut hanya
mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Umar bin Al-Khattab
berkata, "Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah
batu yang tidak bisa memberi madharat maupun manfaat. Kalalulah aku
tidak melihat Rasulullah SAW menciummu aku pun tidak akan
melakukannya."
والله أعلم بالصواب
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer