Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan

Introspeksi Puasa Pasca Ramadhan



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 
آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ



Selama sebulan kita melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Kini kita berada di bulan syawwal bulan peningkatan. Artinya, segala aspek kehidupan kita, idealnya menjadi meningkat lantaran latihan fisik dan mental secara ekstra keras selama ramadhan.
Puasa yang kita laksanakan itu, merupakan pilar islam yang sarat dengan muatan-muatan hikmah. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu, banyak menguak hikmah dan muatan filosofis yang terkandung dalam ibadah yang satu ini. Ada yang meninjaunya dari perspektif kesehatan, manajemen, psikologi, ekonomi, sosiologi, etika sosial, dsb.

Dengan analisis itu, puasa disimpulkan dapat membuat orang menjadi sehat, baik jasmani maupun rohani, puasa dapat meningkatkan kedisiplinan, membentuk insan yang jujur, berkepribadian luhur, mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, dapat melahirkan pencerahan etika dan perilaku positif. Tidak cuma itu, puasa   dapat meningkatkan etos kerja dan produktifitas, bahkan dapat mewujudkan pencerahan spiritual dan intelektual. Demikianlah sebagian kekayaan hikmah yang terkandung dalam  ibadah puasa ramadhan.

Namun, apakah hikmah puasa yang berlimpah itu tercapai pasca ramadhan sehingga puasa mempunyai dampak terhadap pencerahan perilaku, pembangunan manusia yang sehat fisik dan mental, jujur, berdisiplin, mempunyai kepekaan sosial, etos kerja tinggi, produktif, dsb?.
Yang jelas, realitas menunjukkan, masih banyak orang yang berpuasa, kesehatannya justru semakin menurun. Pasca ramadhan ia selalu ke rumah sakit dan menghubungi dokter. Kejujuran mulai dikesampingkan, kolusi dan korupsi dipraktekkan, etos kerja melempem, produktifitas menurun, semangat mengamalkan ajaran agama menjadi luntur, pencerahan spritual dan intelektual menjadi gelap, jiwa kepekaan sosial menjadi pekak, bekerja tetap tidak disiplin, kurang menghargai waktu, dsb.

Jika demikian, benarlah apa yang pernah dituturkan oleh Nabi kita, “Betapa banyak orang puasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat di malam hari, tetapi tidak mendapat apapun kecuali sekedar bangun malam” (HR. Ad-Darimi).
Dalam konteks inilah kita perlu melakukan evaluasi terhadap rangkaian ibadah yang telah kita lakukan selama ramadhan serta  mencari sebab kegagalan puasa yang kita laksanakan.
Kesenjangan antara ideal dan faktual 

Memang,   Islam selalu unggul dalam ajaran yang kaya hikmah atau makna filosofis. Namun sangat disayangkan, selalu saja terjadi kesenjangan antara muatan hikmat yang holistik itu dengan praktek yang ditemui di lapangan. Misalnya, islam adalah agama yang sangat intens mengajarkan kebersihan, namun masih banyak ummat Islam yang akrab dengan lingkungan kotor. Islam adalah agama yang sangat menekankan kedisiplinan, tetapi ummat Islam lah yang banyak melanggar disiplin dan membuang-buang waktu. Islam adalah agama yang syarat mengajarkan urgensi membaca dan menuntut ilmu, tetapi ternyata ummat Islam lah yang malas membaca dan belajar, sehingga terbelenggu dalam bingkai keterbelakangan dan kebodohan. Islam mengajarkan etos kerja secara mengesankan, tetapi umat islam lah yang masih banyak bermalas-malasan. Puasa dalam Islam mengandung segudang hikmah, namun realitas selalu berbeda dengan tujuan hikmat tersebut.
Inilah kesenjangan-kesenjangan antar ideal (das sein) dan faktual (das solen). Upaya pelacakan faktor-faktor terjadinya kesenjangan itu disebut dengan evaluasi, yaitu penilaian kembali ibadah puasa yang telah dilaksanakan. Evaluasi maupun introspeksi, merupakan keniscayaan dilakukan, demi perbaikan dan peningkatan kualitas ibadah di masa depan dan pada gilirannya merefleksikan implikasi positif secara vertikal dan horizontal.
Introspeksi Puasa

Dengan melakukan evaluasi (muhasabah), berarti kita berupaya merenungkan kembali segala amal yang kita lakukan. Dalam tataran ini, kita melakukan evaluasi secara total dan kritis terhadap ibadah puasa yang telah kita laksanakan.
Kalau pasca ramadhan, kesehatan manusia semakin menurun, barangkali kita belum proporsional dalam mengukur porsi makanan. Betul, di siang hari kita menahan lapar dan dahaga, tetapi ketika masuk waktu berbuka di malam hari, kita makan dan minum secara berlebihan, seakan melampiaskan dendam. Kelebihan makanan, selalu menimbulkan kerawanan terhadap berbagai penyakit. Para ahli membuktikan bahwa perut yang tidak teratur, merupakan sumber terjadinya penyakit-penyakit fisik.
Selain, timbulnya penyakit psca ramadhan ini, mungkin saja makanan dan minuman yang kita konsumsi, tidak halalan dan thayyiban sebagaimana yang dianjurkan Al-Qur’an. (QS. 2:168), sehingga berimplikasi negatif bagi kesehatan.
Kalau pasca ramadhan, semangat beribadah semakin luntur sinar spritual semakin gelap, hati semakin mati dan kesat, barangkali karena puasa yang kita lakukan hanya terperangkap kepada pemenuhan rukun formal yakni menahan lapar, dahaga dan hubungan seksual. Atau mungkin kita belum maksimal melaksanakan amalan-amalan yang sangat dianjurkan di bulan ramadhan, seperti banyak membaca Al-Qur’an, rajin berdzikir, selalu bershalawat, banyak berdo’a, tekun istighfar, suka i‘tikaf, dsb. Karena, bila kita melakukan paket amalan ini, berarti kita telah berupaya mencerahkan spritual, mengasah dan mempertajam intuisi, serta meningkatkan etos ibadah. Atau mungkin kita masih melaksanakan sebagian amalan-amalan tersebut, tetapi hanya terperangkap kepada rutinitas ritual, atau kuantitas ibadah, tanpa meresapi dan menghayati makna-makna yang termuat di dalamnya.
Kalau pasca ramadhan, kita masih egois atau individualistis, tak tergugah melihat kemiskinan finansial dan intelektual, tak tersentuh melihat penderitaan saudara-saudara kita, sehingga solidaritas sosial menurun, barangkali, selama ramadhan, kita tidak melaksanakan titah Rasul untuk memperbanyak sedekah dan infaq di bulan ramadhan, sehingga latihan bersifat pemurah tidak terlaksana. Akibatnya, sifat egois dan individualistis masih bermayam dalam diri orang yang berpuasa formalistis itu.

Kalau pasca ramadhan, etos kerja dan produktifitas menurun, kedisiplinan tetap dilanggar, atau perilaku tetap menyimpang, barangkali puasa yang kita lakukan tidak didasarkan perenungan mendalam yang optimistik (ihtisaban) tentang makna filosofis di balik ritus puasa, atau mungkin mengabaikan dimensi historis pelaksanaan puasa di kalangan sahabat Rasul yang tetap mempunyai etos tinggi dan sangat produktif. Hal ini terlihat dari kemenangan-kemenangan besar yang mereka raih pada bulan ramadhan, seperti perang Badar, penaklukkan Mekkah, Tabuk, dsb.
Kalau pasca ramadhan, kejujuran semakin tipis atau sirna, pungli, kolusi dan korupsi tetap menjadi kebiasaan, barangkali puasa yang kita lakukan tidak didasari iman yang benar, tetapi mungkin kita berpuasa karena mengikuti tradisi.
Kita meyakini, bahwa doktrin ibadah dalam Islam, sarat dengan makna dan muatan filosofis yang mengesankan termasuk puasa. Tapi, karena masih banyak umat Islam yang terjebak kepada ibadah formalistis dan rutinitas ritual, maka puasa yang kaya hikmah itu, tidak melahirkan refleksi sosial, tidak menumbuhkan perubahan dalam perilaku keseharian, tidak mewujudkan pencerahan spiritual dan moral, serta tidak memberikan nilai tambah bagi peningkatan disiplin, etos kerja, dan produktifitas.
Puasa bukanlah sekedar menunaikan rukun formal, tetapi dalam konteks yang lebih luas, puasa merupakan upaya pengendalian diri dari seluruh kecenderungan sifat dan perilaku yang merusak untuk mewujudkan insan muttaqin dan sosok manusia paripurna menurut konsep  Al-Qur’an.
Penutup

Bila kita telah melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap ibadah puasa dan amalan ramadhan lainnya, kemudian memperbaiki kekurangan-kekurangannya, maka selanjutnya kita serahkan kepada Allah SWT karena kita telah berupaya secara maksimal dalam beramal dan/muhasabah (evaluasi). Sikap ini harus pula kita iringi dengan khauf dan raja’, sebagaimana yang dikemukakan oleh imam al-ghazali dalam karya monumentalnya, ihya ulumuddin . Ia mengatakan, bahwa setelah kita melaksanakan ibadah puasa dan amalan-amalan lainnya, kita harus menyikapinya dengan dua maqam. Yaitu, khauf (khawatir) dan raja’ (harap). Maksudnya, “kita takut kalau-kalau ibadah kita tidak diterima Allah, dan “berharap” kiranya ibadah kita diterima-Nya” .

والله أعلم بالصواب
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Etika Merayakan Idul Fitri



Idul Fitri hari Kebahagiaan dan Kemenangan
Ied-ud-Fithr terdiri dari dua kata, yaitu ied yang artinya hari raya, dari asal kata 'ayada yg artinya kembali. Dikatakan ied karena pada hari itu Allah s.w.t mengembalikan kegembiraan dan rasa suka cita kepada hambaNya. Ada yang mengatakan  disebut ied karena pada hari itu kembalinya kebaikan-kebaikan dari Allah kepada hamba, pda hari itu seorang hamba kembali dalam keadaan suci karena telah bertaubat kepada Allah dan telah meminta maaf kepada sesamanya.
Kata kedua fithr yang artinya fitrah, kesucian dan kebersihan jiwa. Ini karena pada hari itu seorang hamba merayakan kebersihannya dari noda-noda dosa karena beribadah dan bartubat secara intensif selama sebulan penuh. Maka ada yang menyebut hari idul fitri sebagai hari kemenangan karena kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita selama sebulan penuh.
Tidak hanya itu, hari Idul Fitri juga menandai hari-hari besejarah. Wahab bin Manbah meriwayatkan: "Allah menciptakan sorga pada hari Ideul Fitri, menanam pohon keuntungan (thuuba) pda hari itu dan Allah memilih Jibril sebagai pembawa wahyu juga pada hari itu juga". 

Idul Fitri dalam al-Qur'an
Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-A'la (14-15)
قد أفلح من تزكى * وذكر اسم ربه فصلى *
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. "

Qatadah dan Ata' mengatakan yang dimaksud dengan membersihkan diri dalam ayat ini adalah mengeluarkan zakat fitrah. Abu Said al-Khudri berkata: yang dimaksud dengan "ingat nama Tuhannya" adalah dengan mengumandangkan takbir pada hari Idul Fitri dan bersembahyang maksudnya sholat Ied".

Fadlilah Idul Fitri
Banyak fadlilah dan keutamaan yang diturunkan Allah SWT. pada hari idul fitri. Dari Anas bin Malik Rasulullah SAW. bersabda "Pada malam Idul Fitri Allah membayarkan pahala orang-orang yang berpuasa Ramadhan, lalu Allah memerintahkan kepada malaikat-malaikatNya di pagi hari itu agar turun ke bumi, mereka berdiri di ujung-ujung jalan dan pintu-pintu masuk perkampungan seraya menyerukan kepada mahluk di bumi ini dengan suara lantang yang didengarkan oleh semua mahluk bumi kecuali manusia dan jin : wahai umat Muhammad keluarlah kepada Tuhanmu Yang Maha Besar, Menerima hal kecil, Membalas dengan kebesaran, Memaafkan dosa besar. Ketika mereka mulai berduyun-duyun ke masjid-masjid dan mendirikan sholat dan berdoa, maka Allah tidak mendengar permintaan mereka kecuali mengabulkan hajatnya, memberi permintaannya dan mengampui dosa-dosanya. Lalu mereka keluar dari masjid dalam keadaan diampuni oleh Allah".
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa malam Idul Fitri disebut malam pemberian hadiah, pada malam itu Allah berseru kepada malaikatnya: "Aku bersaksi wahai malaikatku bahwa Aku telah memberikan pahala puasa hamba-hambaKu, pahala sholat-sholat mereka. Aku limpahkan kepada mereka ridla dan ampunanKu. Kemudian Allah berfirman "Wahai hamba-hambaku, demi keagungan dan kemuliayaanKu, apapun yang kalian minta untuk hari akhirmu pasti akan Kukabulkan, apapun yang kalian minta untuk dunia kalian pasti akan Kuikutkan, Aku akan tutupi kekuranganmu sejauh engkau mengingatKu, keluarlah dengan ampunan dan ridlaKu".

Sebelum Idul Fitri Tiba

Sebelum Idul Fitri datang ada baiknya kita persiapkan hal-hal yang selayaknya kita persiapkan untuk hari mulia itu. Kita perhatikan persiapan-persiapan itu mulai dari yang wajib lalu yang sunnah. Pertama yang harus kita kerjakan menjelang hari Iedul Fitri adalah membayar Zakat Fitrah. Zakat Fitrah waktunya adalah mulai mata hari terbenam malam Ied hingga mulai didirikan sholat Ied. Dalam hadist riwayat Ibnu Umar, Rasulullah SAW. memerintahkan agar mengeluarkan zakat fitrah sebelum masyarakat keluar untuk menjalankan sholat Ied" (HR. Jamaah). Hadist Ibnu Abbas menegaskan bahwa "Barangsiapa mengeluarkan Zakat Fitrah sebelum sholat Ied maka itu merupakan Zakat Fitrah yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat Ied maka itu seperti sedekah biasa" (H.R. Abud Dawud).

Amalan-amalan lain yang disunnahkan menjelang Idul Fitri adalah sbb:
1.         Memperbanyak membaca takbir pada malam Iedul Fitri. Itu merupakan ibadah yang kita lakukan untuk meninggalkan Ramadhan dan untuk menyambut kedatangan ‘Idul fitri. Oleh sebab itu, disunatkan kepada kita mengucapkan takbir dengan mengangkat suara, bermula waktunya dari terbenam matahari malam Hari Raya sehingga imam mengangkat takbiratul ihram sholat ied. Firman Allah Ta‘ala:
... ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون
Maksudnya : “Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Ia memberi petunjuk kepada kamu, dan agar kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah diberikan”.( Surah Al-Baqarah : 185).
2.        Menghidupkan malam Idul Fitri dengan memperbanyak beribadah kepada Allah, baik itu dzikir, sholat atau membaca al-Qur'an. Melantunkan kalimat takbir juga merupakan ibadah yang dianjurkan pada malam Idul Fitri. Dalam sebuah hadist riwayat Udah bin Shamit Rasulullah bersabda: "Barang siapa menghidupkan malam Ied dengan beribadah kepada Allah, niscaya hatinya tidak akan mati di hari dimana hati-hati manusia telah mait" (H.R. Thabrani).
3.       Mandi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian yang terbaik, memendekkan kuku yang panjang dan menghilangkan bau badan.
4.             Bagi makmum disunnahkan agar datang ke masjid atau tempat sholat Ied dengan berjalan kaki dan berangkat pagi-pagi setelah sholat Subuh. Sedangkan bagi imam disunnahkan mengakhirkan kedatangannya ke masjid hingga menjelang sholat.
5.             Disunnahkan sarapan pagi dengan bilangan kurma ganjil sebelum berangkat ke masjid untuk sholat   Ied. (HR. Bukhari)
6.           Menunjukkan rasa gembira dan bahagia kepada semua orang yang ditemui serta bersikap dermawan lebih    dari hari-hari biasa.
7.             Disunnah berangkat dan pulang dari masjid melalui jalan yang berbeda untuk syiar agama.

Sholat Idul Fitri
Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah mu'akkadah menurut Syafi'iyah dan Malikiyah. Sedangkan menurut Hanbali hukumnya Fardlu Kifayah dan menurut Hanafiyah hukumnya Wajib.
Waktu Sholat Ied adalah setelah matahari terbit setinggi tombak hingga waktu tengah hari. Jadi waktu sholat Ied sama dengan wakatu sholat Dhuha.
Tempat dilaksanakan sholat Ied menurut mayoritas ulama adalah di lapangan luar kota kecuali kota Makkah dimana sholat Ied lebih utama dilaksanakan di Masjidil Haram. Mayoritas ulama juga berpendapat bahwa sholat Ied di masjid dengan tanpa sebab seperti hujan, hukumnya makruh. (Sesuai hadist Abu Dawud dll.). Hanya ulama Syafi'iyah yang mengatakan bahwa sholat Ied di masjid lebih utama dalam segala kondisi, dengan alasan dan dalil bahwa masjid merupakan tempat yang lebih mulia dari tempat apapun, terkecuali bila masjid sempit sehingga tidak menampung semua jamaah, maka disunnahkan di lapangan.

Perbedaan Waktu Pelaksanaan
Saat ini terjadi fenomena perbedaan hari pelaksanaan Iedul Fitri karena perbedaan metodologi penentuan hilal. Umat Islam dipersilahkan mengikuti mana yang diyakini benar. Mengikuti keputusan pemerintah juga merupakan langkah yang bijak untuk menjawab keragu-raguan dan kebingungan.
Para ulama, imam-imam masjid dan da’i publik selayaknya memberikan penjelasan kepada masyarakat awam tentang fenomena perbedaan metodologi dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri, termasuk wawasan tentang rukyah dan hisab serta landasan metodologisnya. Ini akan membantu memperluas wawasan masyarakat terhadap masalah perbedaan dan khilafiyah yang wajar terjadi dalam pemahaman agama, sehingga tidak mengarah kepada ketegangan antar umat Islam.
Bagi yang melaksanakan Iedul Fitri lebih dulu, sebaiknya tidak perlu menyalahkan yang belum iedul fitri dan tidak melakukan tindakan provokatif yang tidak sehat, seperti sengaja makan dan minum di depan yang masih puasa demi tujuan provokatif.
Masyarakat hendaknya diberi kebebasan dalam memilih masjid untuk sholat Ied. Apabila seseorang ikut Idul Fitri hari ini, padahal masjid di dekat rumahnya melaksanakan sholat Idul Fitri besok, maka ia cukup buka puasa diam-diam di rumah dan besoknya bisa ikut berjamaah Idul Fitri bersama masyarakat sekitarnya. Ini seperti orang yang melihat hilal sendirian tanpa dua orang saksi sehingga pendapatnya tidak dijadikan pijakan oleh pemerintah.
Mengenai masalah hukum keharaman puasa pada hari Idul Fitri, selayaknya dikembalikan kepada keyakinan masing-masing dalam menentukan hari Idul Fitri dan dikembalikan kepada Allah. Allah maha adil dalam menghukumi amalan hambanya. Tidak perlu membahas siapa yang dosa dan siapa yang menanggung dosa. Semua kita kembalikan kepada Allah yang maha bijaksana.
Fenomena perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri selayaknya kita angkat sebagai wahana mengembangkan toleransi di antara umat Islam maupun antar umat beragama. Fenomena ini jangan dijadikan pemicu perpecahan umat Islam, namun layaknya dijadikan tauladan bagi kehidupan beragama yang ragam namun tetap menjunjung kebersamaan dan persatuan.
Slilaturrahmi dan saling meminta maaf
Kebersihan jiwa yang tercipta oleh ibadah puasa kita selama sebulan penuh akan lebih sempurna kalau dipoles dengan pembersihan diri dari hak-hak orang lain. Dosa kita kepada Allah telah kita tebus dengan ibadah dan taubat selama sebulan penuh, kini saatnya dosa-dosa kita kepada teman dan saudara kita juga kita hapuskan dengan saling meminta maaf dan saling mendoakan. Dalam sebuah hadist riwayat Salman al-Farisi Rasulullah menyatakan : "Seorang muslim ketika bertemu dengan saudaranya seiman, lalu diambilnya tangan saudara bersalaman, maka dosa-dosa keduanya berjatuhan laksana jatuhnya daun-daun dari pepohonan kering di saat angin berhembus, dosa-dosa keduanya diampuni meskipun sebanyak buih lautan" (HR. Thabrani).
Pada hari Idul Fitri ini juga saatnya mempererat tali silaturrahmi yang sudah terjalin dan menyambung tali silaturrahmi yang terputus. Saling mengunjungi saudara dan sahabat merupakan cara untuk meningkatkan tali silaturrahmi tersebut. Mungkin di luar hari raya kita enggan untuk berkunjung ke teman atau sahabat kita karena tidak ada alasan yang tepat, maka di hari Iedul Fitri ini kita manfaatkan untuk seling berkunjung.
Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir batin
Semoga Amal Ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah Yang Maha Agung.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer