Definisi Fasik




بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 
آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ



Dalam kitab "al-Mathla' 'ala abwabil muqni', karangan Syamsuddin Ba'ly, "fasik' didefinisikan : orang yang banyak berbuat maksiat, meninggalkan perintah Allah, keluar dari jalan benar dan agama. Fasik juga didefiniskan orang yang melakukan dosa besar atau sering melakukan dosa kecil.  

Sembelihan orang fasik sah, karena mereka masih termasuk muslim dan tidak ada dalil yang menyatakan tidak sah. Ini diperkuat dengan sahnya sembelihan orang Yahudi dan Nasrani, orang fasik masih tergolong muslim. Orang Fasik bila menjadi imam, para ulama berbeda pendapat : ada yang mengatakan makmum kepada mereka harus mengulangi shalat. Namun ada ulama yang berpendapat sah bermakmum kapada fasik, asalkan tidak dalam keadaan mabok dan memenuhi syarat dan rukun shalat, karena dosa kafasikannya urusan dia dengan Allah. Ada beberapa ulama yang mengklaim telah terjadi ijma' para ulama bahwa kesaksiannya orang fasik tidak diterima, sesuai dengan ayat 6 al-Hujurat dan kisah berita bohong.


والله أعلم بالصواب
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Tentang Barokah & Rahmat



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 
آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ

Barokah didefiniskan : adanya kebaikan yang sifatnya ilahi dalam suatu perkara atau tindakan. Dengan demikian barokah tidak bisa terlihat langsung secara indrawi dan lahiriah namun terkadang bisa terasakan. Sesuatu yang dirasakan mempunyai nilai tambah padahal lahirnya tidak atau malah berkurang, dikatakan mempunyai barokah. Contohnya harta yang dizakati, lahirnya ia berkurang namun pada hakekatnya ia mempunyai barokah atau diberkati, karena kekurangan tersebut terkadang secara tidak langsung mendatangkan rizki yang lain. Melakukan sesuatu tanpa membaca basmallah secara lahir tidak berbeda dengan melakukannya dengan membaca basmallah, namun dengan basmallah ada nilai tambah yang tidak terlihat tapi terkadang terasakan, itulah barokah. 

Rahmat artinya kebaikan dari Allah, baik yang sifatnya lahir maupun batin, atau bisa juga diartikan kasih sayang Allah. Maka sebenarnya redaksi dirahmati Allah, kurang begitu tepat sebab seakan ada pengkhususan, padahal semua yang yang kita miliki tidak lain adalah karena rahmat Allah. Rahmat juga diartikan kehendak untuk memberikan kabaikan. 

Barokah sifatnya batin, maka ciri-cirinya tidak semua bisa kita lihat dengan indera. Terkadang keberkahan bisa dirasakan, misalnya mendatangkan manfaat yang lebih dari pekerjaan yang dilakukan atau sesuatu yang dimiliki. Contohnya seorang yang mempunyai ilmu meskipun sedikit tapi bermanfaat bagi masyarakat, ini termasuk tanda-tanda ilmu tersebut diberkati. Demikian juga harta yang bisa termanfaatkan untuk kemasalahatan yang lebih banyak merupakan tanda-tanda diberkahi. Ada harta yang meskipun jumlahnya banyak tapi tidak begitu berguna. 

Ihtiar untuk mendapatkan barokah antara lain menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang agama, yang merugikan baik bagi agama atau masyarakat, memberikan hak-hak dari apa yang kita miliki, membaca basmalah ketika melakukan sesuatu dan berdo'a kepada Allah agar senantiasa diberkati dalam segala hal. 


والله أعلم بالصواب
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Puasa Menyempitkan Jalannya Setan




بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 
آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ


Di antara faedah puasa adalah bisa mempersempit aliran darah yang merupakan jalannya setan. Dan perlu diketahui bahwa setan itu merasuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran darah. Dengan menjalani puasa, jalan setan itu menjadi sempit. Sehingga syahwat dan sifat orang yang berpuasa teratasi. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai solusi bagi yang belum mampu menikah untuk mengekang syahwatnya. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoiful Ma’arif, hal. 276-277.

Dalil yang menyatakan bahwa setan itu mengalir di saluran darah manusia adalah kisah Shofiyah berikut.

عَنْ صَفِيَّةَ ابْنَةِ حُيَىٍّ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مُعْتَكِفًا ، فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ ، فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِى لِيَقْلِبَنِى . وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِى دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ ، فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَسْرَعَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ » . فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا »

Dari Shofiyah binti Huyay, ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf, lalu aku mendatangi beliau. Aku mengunjunginya di malam hari. Aku pun bercakap-cakap dengannya. Kemudian aku ingin pulang dan beliau berdiri lalu mengantarku. Kala itu rumah Shofiyah di tempat Usamah bin Zaid. Tiba-tiba ada dua orang Anshar lewat. Ketika keduanya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempercepat langkah kakinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Pelan-pelanlah, sesungguhnya wanita itu adalah Shofiyah binti Huyay.” Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).

Puasa bisa menekan syahwat sebagaimana disebut dalam hadits berikut,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki kemampuan menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5066 dan Muslim no. 1400). Yang dimaksud puasa adalah wijaa’ atau pengekang yaitu puasa itu bisa menekan syahwat dan menghalangi nafsu jelek yang menyebabkan tumpahnya mani. Sebagaimana wijaa’ itu bekerja sebagai penghancur. Demikian yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim, 9: 155.

Dari penjelasan di atas menunjukkan benarnya apa yang dikatakan di awal bahasan bahwa puasa bisa mempersempit jalannya setan karena jika setan mudah mengalir, maka mudah pula bangkit syahwat jelek. Artinya, jika puasa bisa menekan syahwat berarti puasa bisa mempersempit jalannya setan.
Jika puasa bisa menekan syahwat, maka sudah sepantasnya setiap mukmin menggunakan moment ini untuk beribadah dengan baik pada Allah dan belajar meninggalkan maksiat dan syahwat jelek.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Dengan puasa, Allah menyempitkan aliran darah yang merupakan jalurnya setan karena setan itu menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa ini menyempitkan jalan tersebut sehingga setan pun terhalang untuk menggoda. Hal ini diperoleh bagi yang menjalani puasa dengan benar dan ikhlas. Oleh karena itu, puasa Ramadhan adalah moment yang baik bagi setiap mukmin untuk bersemangat dalam ibadah kepada Allah. Hendaklah mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah dan dzikir. Juga dalam meraih pahala di sisi Allah serta takut akan siksa Allah di akhirat.” (Syarh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz ‘ala Wazhoif Ramadhan, hal. 67).
Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:
  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.
  • Syarh Samahatusy Syaikh Al ‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz ‘ala Kitab Wazhoif Ramadhan (kitab ringkasan dari Lathoiful Ma’arif Ibnu Rajab dan tambahan dari ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim, terbitan Muassasah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, cetakan pertama, tahun 1432 H.





أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Puasa dan Kejujuran



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 
آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ


Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial, ekonomi, politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidak jujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia. Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan materialisme dan hedonisme yang cendrung menghalalkan segala cara.

Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang halal dan haram dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan orang,”kalau jujur akan terbujur”, ”kalau lurus akan kurus”, kalau ihklas akan tergilas”.

Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan ketidak jujuran.

Nabi Muhammad SAW pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman,manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR. Muslim).

Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang mengerikan, bahkan implikasinya telah menjadi patologi sosial yang parah, seperti menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin dsb. Banyak kita temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kemewahan dunia secara massif, tanpa mempedulikan garisan-garisan syariah dan moralitas.

Praktek kolusi, korupsi dan suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat kita . Untuk mengatasi dan mengurangi segala destruktif tersebut, puasa merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab (mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentang hikmat yang terkandung di dalam puasa Ramadhan.


Puasa melatih kejujuran
Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah SWT.

Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim (pelaku puasa) itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran.Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.

Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran.

Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain. Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidak adilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang, masa yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak disapaikan Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya. Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu agar orang tersebut berlaku jujur dan tidak bohong. Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat. Dan ternyata syarat jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau tidak. Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh penghayatan.

Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi, kolusi, penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya.
Dewasa ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari ibadah puasa, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan kejujuran yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagai bagian dari kehidupan riel dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking oleh oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang.

Fenomena kebohongan dan tersingkirnya sifat kejujuran, mengantarkan masyarakat dan bangsa kita pada beberapa musibah nasional yang berlangsung secara beruntun dan silih berganti tiada henti. Terjadinya malapetaka berupa krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia adalah cermin paling jelas dari makin hilangnya sukma. kejujuran dan semakin mekarnya kepalsuan dalam kehidupan bangsa kita.
Dalam menghadapi kasus-kasus yang gawat seperti itu, pesan-pesan profetik keagamaan seperti pesan luhur ibadah puasa dapat ditransformasikan untuk membongkar sangkar kepalsuan dan membangun kejujuran.

Ada yang secara pesimis berpendapat, bahwa membangun kejujuran pada era materialisme adalah suatu utopia (angan-angan) mengingat mengakarnya sifat ketidak jujuran dalam masyarakat dan bangsa kita. Sebagai orang beriman yang menyandang peringkat khairah ummah, sikap pesimis di atas harus dibuang jauh-jauh.Sebab gerakan amarma’ruf nahi mungkar yang dilandasi iman, harus tetap dilancarkan, agar konstelasi dunia ini tidak semakin parah.

Realitas menunjukkan, bahwa kesemarakan ramadhan dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun ironisnya, bersamaan dengan itu penyimpangan dan ketidak jujuran masih berjalan terus. Padahal, suatu bulan kita dilatih dan didik untuk berlaku jujur, menjadi orang yang dapat dipercaya. Bila selama satu bulan itu, orang-orang yang berpuasa benar-benar berlatih secara serius dengan penuh penghayatan terhadap hikmah puasa, maka pancaran kejujuran akan terpantul dari dalam jiwa mereka. Kalau puasa Ramadhan yang dilakukan tidak melahirkan manusia-manusia jujur, berarti kualitas puasa orang tersebut masih sebatas lapar dan dahaga. Karena puasa yang dilakukan tidak memantulkan refleksi kejujuran. Kalau orang yang berpuasa, masih mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan, berarti kualitas ibadah orang tersebut masih sangat rendah. Kalau orang yang berpuasa, masih mau melakukan mark up dalam proyek, korupsi dan kolusi, berarti puasa yang dilakukan masih jauh dari tujuan puasa.

Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau sirna, pungli, korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali puasa yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan puasa hanya karena mengikuti tradisi. Untuk mewujudkan manusia jujur, perlu peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa upaya ini, kejujuran takkan lahir dari orang yang berpuasa.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Puasa Tetapi Masih Terus Bermaksiat



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 

آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ


Sebagian ulama salaf berkata,

أهون الصيام ترك الشراب و الطعام

"Puasa yang jelek adalah jika saat puasa hanya meninggalkan minum dan makan saja." (Lathoiful Ma'arif , hal. 277).

Maksudnya, puasa yang dilakukan hanya menahan lapar dan dahaga, namun maksiat masih terus jalan. Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu berkata,

إذا صمت فليصم سمعك و بصرك و لسانك عن الكذب و المحارم و دع أذى الجار و ليكن عليك وقار و سكينة يوم صومك و لا تجعل يوم صومك و يوم فطرك سواء

"Jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari dusta dan hal yang diharamkan. Jangan sampai engkau menyakiti tetanggamu. Juga bersikap tenanglah di hari puasamu. Jangan jadikan puasamu seperti hari-hari biasa."

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر

"Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari."(HR. Ahmad 2: 373. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid ).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Mendekatkan diri pada Allah Ta'ala dengan meninggalkan hal yang asalnya mubah tidaklah sempurna sampai seseorang meninggalkan keharaman. Barangsiapa yang melakukan yang haram disertai mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah, maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu beralih mengerjakan yang sunnah. Walaupun puasa orang yang bermaksiat tetap dianggap sah dan tidak diperintahkan untuk mengqodho 'puasanya menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama). Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus (seperti makan, minum dan jima ') dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama. "(Latho'iful Ma'arif , hal. 277-278).

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, "Menjauhi berbagai hal yang dapat membatalkan puasa, hukumnya wajib. Sedangkan menjauhi hal-hal selain itu yang tergolong maksiat termasuk penyempurna puasa. "(Fathul Bari , 4: 117).

Mulai 'Ali Al Qori rahimahullah berkata, "Ketika berpuasa begitu keras larangan untuk bermaksiat. Orang yang berpuasa namun melakukan maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu bermaksiat, yaitu pahala pokoknya tidak batal, hanya kesempurnaan pahala yang tidak ia peroleh. Orang yang berpuasa namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang ia lakukan. "(Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, 6: 308).

Dalam Al Qur'an setelah Allah melarang dari makan dan minum di siang hari saat puasa, disebutkan pula setelah itu keharaman memakan harta orang lain tanpa lewat jalan yang benar. Padahal memakan harta orang lain dengan jalan keliru adalah terlarang di setiap waktu. Sedangkan larangan untuk makan dan minum hanya saat puasa. Ini adalah sinyal bahwa siapa yang mendekatkan diri pada Allah dengan menjauhi makan dan minum, maka ia juga diharuskan untuk menjauhi memakan harta orang lain dengan jalan yang batil. Namun memakan harta seperti itu terjadi setiap waktu, bukan ketika Ramadhan saja atau waktu tertentu saja. Lihat penjelasan Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoiful Ma'arif , hal. 278.

Syaikh 'Abdul' Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, "Puasa yang telah Allah syari'atkan adalah jalan yang Dia jadikan untuk kita belajar menjaga anggota badan dari hal-hal yang Dia haramkan dan harus anggota tubuh ini digunakan hanya pada jalan ketaatan. Juga semoga hal ini semakin mengingatkan pada nikmat Allah. "Lihat Syarh Samahatusy Syaikh Al 'Allamah' Abdul 'Aziz bin Baz' ala Kitab Wazhoif Ramadhan , hal. 77.


Hanya Allah yang memberi taufik.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Etika Perut dan Kemaluan



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 

آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ


Imam Ghozali dalam kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan beberapa Etika Perut adalah sebagai berikut:

1. Jagalah dari mengkonsumsi makanan haram dan berusahalah hanya mengkonsumsi makanan halal. Sekiranya kamu menemukan makanan halal maka makanlah jangan sampai kekenyangan. Kekenyangan membuat keras hati, merusak perasaan, mengganggu hafalan, menyebabkan badan berat untuk beribadah dan menuntut ilmu. Kekenyangan juga merangsang syahwat dan membantu godaan setan.



2. Apabila kamu merasa cukup dalam satu tahun dengan satu baju baru yang tidak terlalu bagus, merasa cukup dalam sehari semalam dengan dua roti Khoskar, kamu menghindari berlebih-lebihan dengan lauk pauk, maka sejatinya kamu sudah tidak perlu tambahan lagi dari perkara halal, sesungguhnya perkara halal itu banyak.



3. Kamu tidak perlu menyelidiki perkara yang tidak kelihatan, tetapi cukup bagimu yakin bahwa yang kamu konsumsi adalah bukan produk haram melalui pengamatanmu. Sesuatu yang bersifat haram sangat jelas. Adapun perkara yang diyakini haram contohnya adalah harta penguasa dan pejabatnya (yang melebihi dari gajinya), harta orang yang pekerjaannya hanya tukang ratap (dulu ada orang yang disewa untuk meratapi dan menangisi orang yang meninggal, khususnya apabila yang meninggal dari kalangan berpengaruh. Pekerjaan ini diharamkan), penjual minuman keras, riba dan pemain musik yang diharamkan agama seperti seruling dll. Orang yang kamu yakini sebagian besar hartanya haram, maka apa yang kamu peroleh darinya kemungkinan besar haram. Andaikan itu halal pasti sangat kecil kemungkinannya.



4. Termasuk harta haram murni adalah harta yang dimakan dari barang wakaf tanpa syarat yang diperbolehkan oleh pelaku wakaf. Barangsiapa yang bekerja tanpa upah yang disepakati , maka apa yang dia ambil dari madrasah adalah haram, barangsiapa banyak melakukan maksiat maka kesaksiannya ditolak. Apa yang diambil atasnama lembaga tasawuf maka itu haram.



Etika Kemaluan



Adapun kemaluan kalian, maka jagalah dari apa yang diharamkan Allah. Jadilah seperti apa yang difirmankan Allah SWT. “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, sesungguhnya mereka tiada tercela”.

Menjaga kemaluan tidak akan terwujud tanpa menjaga mata dari maksiat, menjaga hati dari fikiran kotor, menjaga perut dari perkara syubhat dan kekenyangan, itulah yang memperkuat syahwat dan sumber-sumbernya.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Dua Tingkatan Orang Yang Berpuasa



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 

آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ


Ada dua tingkatan orang yang berpuasa sebagaimana kesimpulan para ulama dari berbagai dalil,
Tingkatan pertama: Orang yang melakukan puasa yang diperintahkan di bulan Ramadhan dan puasa sunnah dengan menjauhi larangan saat puasa yaitu makan, minum, hubungan intim dan menghindarkan diri dari berbagai perkara yang diharamkan juga meninggalkan berbagai maksiat. Puasa tingkatan pertama ini akan mendapatkan karunia dan pahala yang besar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada seseorang,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً اتِّقَاءَ اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْراً مِنْهُ

“Jika engkau menjaga diri dari sesuatu karena Allah, maka tentu Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad 5: 78. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Karena orang yang berpuasa meninggalkan makan, minum, dan hubungan intim karena Allah, maka Allah akan menganti dengan kenikmatan di surga seperti disebut dalam ayat,

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al Haqqah: 24).
Mujahid mengatakan bahwa ayat ini turun kepada orang-orang yang berpuasa. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 21.
Juga terkhusus bagi orang yang berpuasa disediakan pintu Ar Rayyan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang muttafaqun ‘alaih, dari Sahl bin Sa’ad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga terdapat pintu yang disebut “Ar Rayyan”. Di dalamnya masuklah orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat. Tidak ada orang lain yang memasuki pintu tersebut bersama mereka. Nanti akan dipanggil, “Di mana orang yang berpuasa?” Lalu mereka memasuki pintu tersebut. Jika orang terakhir telah memasukinya, pintu tersebut tertutup dan tidak satu pun  yang bisa memasukinya lagi.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

Tingkatan kedua: Berpuasa atau menahan diri dari berbagai hal yang Allah haramkan baik di bulan Ramadhan, juga bulan-bulan lainnya. Jadi berpuasanya bukan di bulan Ramadhan saja, tetapi setiap waktu. Ia terus konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ia pun tidak melampaui batasan Allah. Tingkatan kedua ini tentu lebih tinggi daripada tingkatan pertama.
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Siapa yang berpuasa menahan syahwatnya di dunia, ia akan dapati kenikmatan tersebut di jannah (surga). Siapa yang meninggalkan ketergantungan pada selain Allah, maka ia akan menantikan balasannya ketika berjumpa dengan-Nya.

مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآَتٍ

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.” (QS. Al ‘Ankabut: 5). (Lathoiful Ma’arif, hal. 285).

Penjelasan di atas diringkas dari pembahasan Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif dan bantuan penjelasan dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dari kitab Wazhoif Ramadhan karya ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim.

Ya Allah, berilah kami kemudahan untuk memasuki pintu surga Ar Rayyan dan mendapatkan kenikmatan lainnya di surga. Wallahu waliyyut taufiq.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Membangun Etika Pergaulan Melalui Puasa



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ 

آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ

Dalam pandangan Islam, syahwat terhadap lawan jenis merupakan salah satu kesenangan hidup dan karunia Allah yang diberikan kepada manusia. Dalam surah Ali Imran: 14 dikatakan: “Dihiasi kepada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik [surga]. 

Menyalurkan syahwat sesuai aturan merupakan sunnah Rasul dan pekerjaan yang terpuji. Oleh karenanya Islam mensyariatkan pernikahan dan mengharamkan perzinahan. Salah satu tujuan pernikahan adalah agar penyaluran syahwat birahi manusia tidak menyimpang dari ajaran agama dan agar melindungi keturunan manusia. Sedangkan perzinahan adalah tindakan yang sangat tercela dalam dan Islam dan merupakan dosa besar bahkan diancam dengan hukuman yang sangat berat. Tidak hanya perzinahan, hubungan sesama jenis atau penyimpangan seksual yang tidak wajar lainnya juga dilarang agama. Itu menunjukkan bahwa diperlukan manajemen yang baik dalam menyalurkan hasrat birahi agar tidak terjerumus ke dalam tindakan yang diharamkan.

Banyaknya kasus perselingkuhan dalam rumah tangga, hamil di luar nikah, pergaulan bebas dan perilaku asusia lainnya di masyarakat, adalah juga karena banyaknya masyarakat kita yang melupakan ajaran agama tentang manajeman syahwat tersebut. Akibatnya, institusi pernikahan sering tidak terlalu disakralkan lagi dan hal itu diperparah oleh pengaruh media yang bebas.

Salah satu cara untuk melatih dan mendidik kita dalam melakukan manajeman syahwat tersebut adalah melalui ibadah puasa. Dengan berpuasa, kemampuan untuk mengendalikan syahwat birahi bisa ditingkatkan. Rasulullah SAW. pernah berpesan “Wahai para pemuda barangsiapa memiliki kemampuan, maka hendaklah ia menikah, karena itu akan meredam mata dan menjaga kemaluan. Barangsiapa tidak mampu, hendaklah ia berpuasa karena itu bisa meredamkan (hasrat birahi)." (HR. Muslim).

Selama puasa, hubungan badan suami istri di siang hari bulan Ramadhan diharamkan dan membatalkan puasanya. Begitu juga aktifitas seksual seperti onani, juga membatalkan puasa. Hanya pada malam hari hubungan suami istri tetap diperbolehkan hingga fajar menyingsing. Puasa mengharuskan seseorang melakukan pembatasan dalam menyalurkan syahwat seksualnya yang halal. Itu merupakan penyadaran kepada kita bahwa di sana ada etika, ada rambu-rambu dan ada peraturan-peraturan yang harus diikuti dalam hubungan lawan jenis, baik di dalam kehidupan rumah tangga maupun di masyarakat. Hubungan badan yang diperbolehkan hanyalah melalui ikatan pernikahan. Agama melarang berduaan lawan jenis yang bukan muhrim. Begitu juga agama mencela ikhtilat, yaitu percampuran lelaki perempuan yang tanpa asas manfaat yang diperbolehkan agama.

Aturan dan etika tersebut harus senantiasa kita promosikan dan sosialisasikan di masyarakat kita, tidak hanya pada bulan Ramadhan. Terutama lagi kepada kaum remaja kita, agar mereka memahami etika dan rambu-rambu agama yang mengatur hubungan dan pergaulan antar jenis. Dengan begitu kita ikut membentengi mereka dari terbawa arus pergaulan bebas yang dibawa oleh kebebasan media saat ini. Semoga nilai-nilai puasa Ramadhan dapat senantiasa kita amalkan dalam kehidupan dan masyarakat kita.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer